TIDAK KUAT SENGSARA, MENDUNIA LAGI.

Dalam proses menuju kesucian jiwa,biasanya diikuti dengan pengalaman kehidupan yang tidak nyaman,atau singkatnya hidupnya dalam kesengsaraan . Hal ini terjadi akibat ekspresi berlakunya hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat. Semakin gelap jiwanya semakin lama berakhirnya masa waktu kesengsaraan. Dan lama kelamaan reda . . . .akhirnya berhenti.

Pada konteks ini orang tersebut ternyata tidak kuat mengalami lakon kesengsaraan,akhirnya berhenti berproses dalam pensucian jiwa,dan mendunia lagi. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama,apa yang terjadi ?, ternyata dari sudut pandang duniawi,kehidupannya berangsur membaik bahkan kesuksesan duniawi menanjak naik masuk ke level menengah keatas.

red rose on wood floow - black and white

Mengerucutnya sudut pandang ada dua hal. Sudut pandang pertama : ” DUNIAWI ”. Ukuran suksesnya adalah materi atau kebendaan, proses pencapaiannya melalui fungsi akal-pikir/logika/kecerdasan otak  ( iQ ) dan kecerdasan emosi ( EQ ), tingkat pemahamannya pada level kesadaran fisik, persepsi diri atau jiwa yang aktif berfungsi adalah jiwa Ego+jiwa Amarah+jiwa Keinginan. Pada kondisi ini, dari aspek spiritual,anda berada pada posisi : Diri Palsu.

Sudut pandang kedua : ” AKHIRAT ”. Ukuran suksesnya adalah kembali ke Asal yaitu TUHAN, proses pencapaiannya melalui fungsi Hati dan kecerdasan spiritual ( SQ ), tingkat pemahamannya pada level kesadaran Ruhani,anda berada pada posisi : DIRI SEJATI.

Hidup adalah pilihan,anda memilih pada posisi Diri Palsu atau Diri Sejati itu adalah hak anda pribadi,karena pertanggung jawaban atas semua perbuatan dalam estafet kehidupan semasa di Bumi ini terpulang ke anda sendiri,bukan orang lain,bukan istri/suami,bukan Gurumu, bukan Nabimu,tetapi dirimu sendiri !.

25 Januari 2013 – Ronggo Alam