MANUSIA TIDAK MENGHARGAI CIPTAAN TUHAN.

Perkembangan persepsi kesadaran diri manusia atas progres kematangan jiwa dalam konteks ini kita bagi menjadi 4(empat) strata yaitu : 1. Diri Palsu. 2. Diri Bijak. 3. Diri Sejati. 4. Jati Diri.  Pada posisi strata 1. Diri Palsu ( terdiri lapis : jiwa Keinginan+jiwa amarah+jiwa Ego ), sekitar 98 % dari populasi manusia dipermukaan Bumi ini adapada posisi Diri Palsu, Diri yang merasa terpisah dengan Tuhannya,Diri yang tidak bisa mengendalikan hawa Egoisme-Amarah-Keinginannya, Diri yang mudah diperdaya oleh Iblis/syetan,Diri yang tidak bisa menghargai ciptaan Tuhan.

Identitas pribadi manusia adalah jiwa,Raga sebagai kendaraan jiwa untuk beraktivitas semasa hidup di Bumi ini seringkali tidak mendapat perhatian dan difungsikan secara baik,hal ini saja sudah menunjukkan manusia tidak menghargai ciptaan Tuhan berupa dirinya sendiri, apalagi menghargai mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Manusia pada strata Diri Palsu cenderung Egoistis,perbuatannya dilandasi pamrih,tidak segan menganiaya dirinya sendiri dan orang lain,hasut-fitnah-merusak-membunuh dimana diperlukan dianggap wajar untuk memenuhi Ego nya.

Manusia tidak menghargai ciptaan Tuhan

Kondisi alami dari proses pematangan jiwa ini pasti dialami oleh setiap manusia yaitu masuk strata 1. Diri Palsu. Agar tidak berlama-lama pada posisi ini,maka Tuhan mengutus Rasul/Nabi/Orang suci yang membawa ajaran/jalan Kebenaran,yang menuntun-memandu atau sebagai pendampingan hidup dalam menjalani kehidupan di Bumi,dalam rangka menuju tujuan hidup yang sejati yaitu kembali ke Asal/Tuhan.

Pada usia berapapun saat anda membaca artikel ini,niatkan tekad untuk mengadakan perubahan status strata dirimu,yang dari Diri Palsu segera naik ke Diri Bijak – terus naik ke strata Diri Sejati – terus naik ke Jati Diri – terus naik ke ranah illahiah,inilah tujuan hidup hakiki,yang bila dapat dicapai sewaktu di Bumi,anda akan mendapatkan : Petunjuk – berkat – rahmat dari Tuhan.

 

5 Februari 2013 – Ronggo Alam