BERSYUKUR DALAM SEMUA KEADAAN.

Sebelum anda Matikan Diri Palsumu,kemudian hidup baru dalam posisi Diri Sejati,selamanya anda akan terombang-ambing dalam kehidupan ini,bagaikan buih dan riak gelombang di Lautan.

Persepsi Diri Palsu adalah memperjuangkan Nasib Hidup,sedangkan persepsi Diri Sejati adalah menjalani takdir hidup. Suatu kontradiksi persepsi dalam mengarungi kehidupan. Selebihnnya tergantung pilihan anda,karena hidup ini adalah pilihan.

BERSYUKUR DALAM SEMUA KEADAAN.

Temperamen sikap pada Diri Palsu adalah Labil, sebentar mendapat kesusahan dia mau tidak mau harus ” Sabar ”, dan bila mendapat Kesenangan dia baru ” Syukur ”, Sabar dan Syukur silih berganti terjadi pada manusia yang Nahkoda hidupnya : DIRI PALSU .

Beda dengan Diri Sejati yang mengerti hakekat kehidupan,bahwa meyakini segala sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah ” Takdir Tuhan ”, sehingga apapun dan kapanpun yang terjadi Dia selalu Bersyukur. Bila kesusahan menimpa dirinya : dia tetap bersyukur,karena ini adalah ketetapan pilihan Tuhan, sebaliknya bila mendapat kesenangan dia pun bersyukur. Bersyukur dalam semua keadaan.

28 Februari 2013 – Ronggo Alam